1. A SHORT CUT

Bogor, 2010. Pada tengah malam hari, Sepasang suami-istri, Kho Sheng(28 tahun) dan Ningtyas Indriani (23 tahun) sedang melakukan perjalanan menuju kota Bogor. Mereka berdua mengambil jalan pintas. Karena bercanda dan tidak focus pada keadaan, mobil mereka menabrak SESEORANG YANG TERLIHAT BERJALAN MABUK(35 tahun). Mereka kaget, dengan segera Kho-Sheng menghentikan mobil dan memeriksa keadaan, tetapi Kho Sheng tidak menemukan orang yang ditabrak olehnya dan memeriksa keadaan mobilnya pun baik-baik saja. Ko Sheng segera naik, masuk ke dalam mobil lagi. Namun, ketika Kho Sheng membuka pintu mobil, SEORANG PRIA BERTOPENG(35 tahun) menusuk perutnya dari belakang dan menggorok leher Kho Sheng. Seketika, Ningtyas Indriani teriak kaget, ia keluar dari mobil, berusaha untuk melarikan diri dari Pria bertopeng itu. Pria bertopeng itu meleparkan pisau golok yang digenggamnya dan menusuk ke pundak Ningtyas Indriani hingga ia terjatuh ke aspal. Ningtyas Indriani mengerang kesakitan. Darah terus megucur dari pundaknya yang tertusuk golok. Pria bertopeng itu mendekati dan menginjak Ningtyas Indriani lalu menarik golok yang menancap di bahunya. Ningtyas Indriani berteriak kesakitan. Pria bertopeng itu memperhatikan Ningtyas indriani yang mengerang kesakitan lalu menjilati pipinya yang dipenuhi air liur. Pria bertopeng itu memegang kaki Ningtyas Indriani lalu menyeretnya. Ningtyas Indriani berusaha menahan sampai jari-jari lengannya yang mencengkrama aspal berdarah-darah tetapi tenaganya tidak cukup kuat untuk bertahan. Ningtyas Idriani berteriak.
Di suatu ruangan yang agak gelap, cahaya matahari sedikit masuk ke ruangan. Ningtyas Indriani terbangun dari pingsannya. Ia mendapati dirinya terikat pada sebuah meja. Lengannya terborgol oleh besi yang dipaku. Di sekeliling Ningtyas Indriani, banyak toples-toples yang berisi organ tubuh manusia dan ada juga potongan tubuh manusia yang tergeletak di atas meja atau digantung dengan kail dan adapula mayat rusak yang sudah busuk digerogoti belatung di lantai semen yang digenang air. Di ruangan itu terdapat juga terdapat seperangkat alat penyiksaan. Ningtyas Indriani ketakutan, ia berusaha melepaskan diri. Setelah ikatannya lepas, Ningtyas indriani bangun sambil memegang pundak lengannya yang terluka. Ia berjalan sambil memegang pundaknya yang terluka, berjalan tertatih-tatih, hampir jatuh;terpeleset oleh usus-usus manusia yang terbuai di lantai. Untung, ia berpengangan pada meja yang ada di sampingnya. Saat berjalan untuk mencari jalan keluar, Ningtyas Indriani melihat beberapa clipping koran tentang berita orang hilang, berita koran tentang “tertangkapnya seorang ayah karena mengajarkan cara-cara membunuh kepada anaknya. Sang anak masuk panti rehabilitasi, melarikan diri dan tidak diketahui keberadaannya hingga kini”, clipping koran juga beberapa foto bangkai binatang terpampang di dinding. Ningtyas Indriani berjalan menuju sebuah pintu yang ada di hadapannya. Ia membuka pintunya, lalu mengintip.
Ningtyas Idriani melihat Pria Bertopeng sedang mencincang-cincang tubuh suaminya, Kho Sheng di sebuah meja dapur. Kepala suaminya, Kho Sheng sudah terpotong terpisah dari tubuhnya. Pria Bertopeng mencincang tubuh-perut Kho Sheng dan mengeluarkan usus dari perutnya. Tidak jauh dari keberadaan Pria Bertopeng, di sebuah meja makan, duduk SEORANG NENEK (55 tahun) di sebuah kursi. Kedua tangan nenek itu diikat ke lengan kursi dengan sebuahkawat berduri ; yang membuat pergelangan tangan nenek itu berdarah-darah. Pria Bertopeng lalu memasukkan usus yang sudah dipotong itu ke dalam kuali besar lalu menuang isi kuali tersebut ke mangkuk dan dihidangkannya di meja makan. Ningtyas Indriani kaget, tubuhnya bereaksi sehingga pintu dimana tempat ia mengintip terbuka lebar. Pria Bertopeng melihat Ningtyas Indriani yang sedang ada di depan pintu. Dengan sigap, Pria Bertopeng mengambil pisau dan golok panjang yang ada di meja didekatnya. Ningtyas Indriani ketakutan, ia berjalan mundur gemetaran, jatuh. Pria Bertopeng menyerang Ningtyas Indriani,mengangkat dan membanting tubuhnya di dinding. Dengan tubuh yang tercekik, Ningtyas Indriani mengambil sebuah pot yang terletak di atas meja lalu ketika dirinya akan ditusuk oleh golok, Ningtyas Indriani melemparkan pot itu ke wajah Pria Bertopeng. Ningtyas Indriani terjatuh, Pria Bertopeng mengerang kesakitan. Kemudian, Ningtyas Indriani berlari namun terperangkap di ruang buntu-ruang penyiksaan, ia dan Pria Bertopeng berkelahi. Saat berkelahi, jari kiri Ningtyas Indriani terpotong, mukanya dibenturkan ke tembok. Pria Bertopeng membanting tubuh Ningtyas Indriani ke sebuah meja dan berusaha mencongkel matanya. Ningtyas Indriani berhasil melepaskan diri, beberapa saat, ia berkelahi lagi dengan Pria Bertopeng, tetapi tangannya sudah gemetaran. Ia mengambil karung yang tergeletak di tanah dan memukulkanya ke kepala Pria Bertopeng. Lalu memukul-mukulinya dengan tongkat besi hingga Pria Bertopeng itu terkapar di lantai berdarah-darah. Ningtyas Indriani merobek sebagian kain bajunya dan digunakan untuk menutupi jari-jari tangannya yang terpotong.
Setelah memastikan Pria Bertopeng itu tewas. Ningtyas Indriani menemui nenek yang terikat di ruang makan itu dengan keadaan yang sudah terpincang-pincang dan berusaha melepaskan ikatannya duri yang melekat di lengannya. Ketika berusaha kabur bersama si nenek, Pria Bertopeng menyerang Ningtyas Indriani dari belakang, punggung Ningtyas Indriani tergores oleh luka dan mengucur darah segar muncrat ke lantai. Ningtyas Indriani jatuh berlutut di lantai berdarah-darah. Ningtyas Indriani berkelahi lagi dengan Pria Bertopeng. Si nenek berusaha menghentikan anaknya, aksi si Pria Bertopeng. Tetapi Pria Bertopeng malah melawan dan menindas si nenek juga. Si nenek terluka. Ia memutuskan untuk menolong Ningtyas Indriani untuk dapat kabur bersama. Di ruang tamu, Mereka berusaha untuk kabur, tetapi Pria Bertopeng menyerang terus. Mereka berdua pun harus berhadapan dengannya.
Akhirnya Ningtyas Indriani berhasil meloloskan diri dengan susah payah meninggalkan sang nenek yang telah dibantai terpotong-potong oleh anaknya sendiri. Ketika meninggalkan rumah, dan berjalan jalan raya, Ningtyas Indriani ditabrak mobil. SEORANG PRIA(32 tahun) keluar dari mobilnya untuk mengecek keadaan. Karena tidak ada apa-apa, pria itu masuk ke mobil lagi, tetapi di belakangnya berdiri SESEORANG YANG MISTERIUS. SUARA TERIAKAN terdengar menggelora di tengah kegelapan malam.
2. Death for My Wedding
Bennedictus Tony RagiL dan Issabell Leung pada tanggal 18 Agustus akan merayakan hari ulang tahun perkawinan yang ke-30. Untuk mempersiapkan acara ulang tahun yang begitu mewah, pada hari Rabu Tony menyewa kamar di sebuah hotel megah di kawasan kuningan. Pada malam hari Rabu, Tony pergi terlebih dahulu ke kamar hotel yang sudah disewanya. Tony mempersiapkan segalanya dengan matang untuk membuat suasana menjadi tambah romantis. Begitu persiapan sudah selesai. Tony tersenyum dan ia langsung mengirim pesan lewat e-mail ke istrinya, Issabell tercinta, tetapi alamat e-mail yang dituju salah, dan malah tertuju ke alamat e-mail seorang janda beranak satu yang baru saja kehilangan suami...
Pagi-paginya di suatu rumah, Tony yang baru saja pulang dari rumah, bingung karena tidak ada yang menyapanya terlebih pintu depan diiarkan terbuka. Tony melihat ibunya, Tessa tergeletak di depan layar komputer. Tessa tergeletak tak sadarkan diri. Tony melihat tulisan yang ada di layar komputer. "Sayangku aku sudah sampai, segala persiapan telah selesai. Aku ingin menyambut kedatanganmu dengan sukacita. Semoga perjalananmu kemari sama menyenangkannya denganku" N. B= Di sini panas sekali.
3. THE BROTHERS
Pendahuluan
Kota Tokyo tahun ini, 2024, memang telah dipenuhi kegelapan, segala yang berhubungan dengan intrik kekerasan, pemerasan, penderitaan dan kesengsaraan bahkan narkoba telah mendarah daging di kehidupan gemerlapnya kota itu sendiri. Semua hal-hal itu telah melahirkan racun yang mengerikan bagi kota Tokyo. Ya, kota Tokyo yang ada pada saat ini memang sudah diluar perkiraan dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pemerintahan Jepang berusaha menekan populasi penduduk Jepang yang semakin banyak di dalam sebuah negara yang memang dari segi ukuran tidak berubah.
Penduduk kota Jepang itu sendirilah yang menjadi monster-monster yang dapat memakan kehidupan sewaktu-waktu. Kekerasan, seks, narkoba, hal itu sepertinya sudah menjadi suatu yang normal dan bukan lagi sesuatu yang tabu di mata masyarakat. Dengan intrik kehidupan kota pula yang semakin dipenuhi oleh kegiatan-kegiatan mafia yang semakin merajalela dan mendominasi di negara Jepang, terutama setelah datangnya mafia Thai ke Jepang, yang semakin mempersulit dan merepotkan kerja kepolisian Jepang.
Tokyo, Jepang 2024
Di daerah pinggiran kota Tokyo sebelah timur, terdapat sebuah apartemen, apartemen Lin. Apartemen itu memang dari luar terlihat gelap, kusang, banyak disarangi oleh laba-laba, banyak neon-neon/lampu-lampu yang pecah dan mati. Semua itu semakin melengkapi apatemen ini lebih disebut apartemen horror. Di dalamnya, lorong-lorongnya kecil, atap langit-langit bocor, lampu remang-remang. Di tiap-tiap pinggir lorong terdapat ruang-ruang atau kamar apartemen. Pintu kamar apartemen di beri nomor dan kadang ada yang menyisipkan nama marga keluarganya tepat di sebelah kiri dan disamping tempat pos surat. Namun ada satu kamar apartemen yang misterius dengan nomor kamar 666, tidak disisipkan nama marga keluarga, tempat pos surat yang rusak, terlebih pintu kamar yang banyak corat-coret dan goresan-goresan hitam. Sebenarnya apa yang ada di dalamnya itu? Apakah sesuatu yang mengerikan?
Di sebuah kamar itu, terkaparlah seorang pria berambut panjang dan berwana kuning. Pria itu tergeletak di lantai kamar, darah mengalir di sekujur keningnya dan membasahi sedikit lantai di sekitar kepalanya dengan pakaian kemeja dan celana jeans yang sudah sobek-sobek dan dipenuhi darah. Sebenarnya apa yang terjadi pada pria itu? Siapakah pria itu? Terlebih keadaan kamar yang berantakan, buku-buku yang berserakan di lantai-lantai kamar, televisi yang rusak dengan kacanya yang pecah. Lemari buku yang tergeletak di lantai kamar, hancur dan dipenuhi goresan-goresan dari semacam benda tajam.
Tak lama kemudian, dari luar apartemen terdengar bunyi-bunyi sirene mobil polisi. Bunyi-bunyi sirene mobil polisi itu berhenti dan mobil itu berhenti tepat dibawah apartemen. Mobil polisi itu jumlahnya ada lima. Sekejap polisi-polisi dan dektektif turun dari mobil polisi itu. Polisi-polisi dan dektektif itu masuk kedalam apartemen dan mendatangi kamar nomor 666. Setelah beberapa jam, melakukan olah TKP, diketahui pria yang terkapar di lantai kamar itu bernama Shuichi Kobayashi. Ia adalah seorang anak buah dari mafia Yakuza.
“ Sepertinya pembunuhan ini berhubungan dengan Yakuza” kata dektektif Agurosawa.
Beberapa jam sebelumnya, masih di kota yang sama, Tokyo dan di daerah yang sama, tepatnya melihat pada sebuah apartemen yang sama pula, apatemen Lin. Apartemen ini keadaannya tidak berubah sama sekali, paling hanya debu-debu dan sarang laba-laba yang belum begitu banyak. Di dalam kamar apartemen nomor 666, dengan keadaan kamar yang masih rapi dan tidak gelap, terdiam termenung seorang pria berambut panjang dan berwarna kuning, Shuichi Kobayashi namanya, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Ia terdiam bisu menutupi wajahnya. Tubuhnya gemetar ketakutan, seakan-akan ketakutan menyelimutinya dan menghantuinya. Seketika terdengar bunyi HP, yang terletak tepat di lantai kamar, di sebelah kirinya. Ia mengangkat HP dan menjawab panggilannya.
“Keberadaanmu telah ketahuan, bersembunyilah”kata Nanao.
Serentak Shuichi kaget dan bertanya-tanya di dalam hatinya kenapa identitasnya bisa ketahuan? Ia pun berteriak.
“Aaaaaaaaaaaaarrrrgggggghhhhh…….!!”.
Ia bertanya-tanya bahkan beribu-ribu kali berpikir, ia pun merasa ingin bersembunyi namun perasaan di dalam hatinya seakan-akan menekan dan membuat hatinya meledak, membuatnya tidak dapat bersembunyi. Perasaanya kini semakin kacau dan menggila, kematian seperti telah menunggunya di depan pintu. Ia takut akan kematian. Sebenarnya mengapa ia begitu takut? dan untuk apa ia bersembunyi? Alam pikirannya mengingat pada masa lalu, tepatnya 8 tahun yang lalu.
Saat itu ia belum bekerja untuk Yakuza, dengan kehidupan keluarga yang kacau, pekerjaan yang tidak tetap. Ia bingung harus berbuat apa untuk mempertahankan keharmonisan keluarganya. Beberapa hari yang lalu, istrinya, Izumi Kobayashi tertangkap basah sedang selingkuh sedang bercumbu panas dengan seorang koruptor kelas kakap di rumahnya, parahnya lagi istrinya jika diceraikan menuntut 20 juta yen, bahkan menuntut akan membunuhnya dengan bantuan koruptor , selingkuhannya itu jika melaporkannya pada polisi, sebelumnya anaknya yang keempat, Benji Kobayashi tertangkap basah memperkosa kakaknya alias anaknya yang pertama, Koruri Kobayashi, hal ini semakin memberatkan pikirannya. Di tengah-tengah gemerlap kehidupan malam kota Tokyo, mampirlah ia sejenak di sebuah pub Cabarcula untuk meringankan kegelisahannya. Pub Cabarcula adalah pub yang memang biasa dikunjungi orang-orang kantoran dan orang-orang yang sedang diselimuti kegelisahan. Di pub itulah, ia bertemu Nanao, seorang drugsdeliver. Nanao, seorang perempuan berparas cantik bertubuh seksi dan selalu berpakaian ketat dan tidak heran bila dalam kehidupan sehari-hari selalu dikelilingi pria-pria hidung belang. Di sinilah Nanao memberitahu dan memperkenalkannya pada seseorang, Jinx namanya. Jinx adalah seorang pemimpin tingkat 4 dalam kelompok mafia Thai
“I know that you’re very confuse thinking about your family home, but I am sure you, I will give you easier way” kata Jinx dalam bahasa inggris.
Jalan mudah yang diberikan Jinx, sebuah pekerjaan, pekerjaan inilah yang pada akhirnya memberatkan bahkan membunuhnnya. Sebuah pekerjaan yang berbahaya dan untuk seorang ksatria atau panglima perang ragu-ragu untuk melakukannya. Bayangkan saja, pekerjaannya adalah mencuri pusaka pedang Han-Tse yang legendaries. Niscaya pedang Han-Tse adalah pedang suci dan pedang mulianya raja di zaman dinasti Han dulu di Cina. Terlebih yang memberatkannya, pedang itu harus dicuri di markas ke-56nya Yakuza, yang di terletak sebelah timur Tokyo.
Pada saat itu Shuichi menggangapnya hanya sebuah lelucon karena hal itu tidak mungkin dilakukannya. Namun hal ini serius bagi Jinx yang memang pada saat itu membutuhkan pedang itu karena memang pedang tersebut merupakan pusaka turun-temurun dari keluarganya, bahkan untuk memperlancar misi tersebut, Shuichi diikat ikatan ‘persaudaraan’ dalam kelompok mafia Thai. Tidak berpikir panjang dan spontan saja, Shuichi yang saat itu masih belum percaya dan tidak menggangap serius hal itu, menerima ikatan ‘persaudaraan’ itu, terlebih karena ia memang membutuhkan uang untuk menceraikan istrinya dan untuk merubah kehidupnya, walaupun ia belum yakin dan percaya akan bekerja apa. Di dalam kelompok mafia Thai yang jumlahnya memang sedikit dan beroperasi sembunyi-sembunyi di daerah Kanto. Selama beberapa hari di sana ia kaget dan ternyata semua ajakan-ajakan Jinx itu benar apa adanya. Seakan tidak dapat menarik kata-katanya lagi karena berhubungan dengan mafia. Ia menuruti semua yang ada, baik peraturannya dengan diselimuti rasa takut karena mafia Thai memang pada saat itu telah menjadi sesuatu ancaman kedua dalam hal kekerasasan kelompok di Jepang setelah adanya Yakuza dan keberadaan mafia Thai dianggap penghalang bahkan penghancur seperti mesin giling yang sewaktu-waktu dapat menyala dan berfungsi oleh Yakuza, walaupun keberadaan yakuza sangat mengerikan bahkan ditakuti oleh kepolisian Jepang saat itu. Tanpa berpikir panjang dirinya akan berurusan dengan ha-hal seperti itu suatu saat nanti, hal seperti itulah yang membuatnya semakin takut dan membuatnya tidak dapat tidur selama beberapa hari.
Tibalah waktunya kini, saat dirinya harus melakukan sebuat misi, misi mengambil kembali pedang Han-Tse dari tangan Yakuza. Dirinya kini harus diklaim sebagai pengikut Yakuza dengan berganti tali ‘persaudaraan’ dengan profesi sebagai mata-mata mafia Thai, ia mulai menjalani hari-hari dengan lebih berat dan dipenuhi kekerasan. Ia memang menerima pekerjaan sebagai penagih utang paksa dan kerap kali ia terpaksa mematahkan bagian tubuh korbannya bahkan membunuhnya. Ia sebenarnya sudah tidak tega dan tahan melakukan semua ini. Hari demi hari ia melakukan hal yang sama melulu, tiap hari pula roh-roh dan jiwa-jiwa orang-orang yang ia siksa bahkan ia bunuh menghantui pikirannya. Hingga suatu hari seorang partner kerjanya, Shoichiro Nagami mengatakan hal yang diluar dugaan pikirannya.
“Lusa pedang Han-Tse akan dibawa ke China untuk diberikan pada mafia Han, yang merupakan ahli waris asli pedang pusaka pedang itu, aku ditugaskan untuk mengawalnya. Apa kamu mau ikut?”kata Shoichiro Nagami.
Perkataan Shoichiro itulah yang membuatnya semakin bingung, bertanya-tanyalah ia di dalam hatinya, “Sebenarnya pedang Han-Tse itu milik siapa, mafia Yakuza atau mafia Thai?” ia bingung dan kali ini lelah untuk berpikir apa yang harus ia lakukan dan mana yang harus ia percaya, Yakuza atau Thai? Ia pun memilih untuk diam.
Di hari-h, tepatnya hari dimana pedang Han-Tse akan dibawa kembali ke China, Shoichiro yang menjadi pengawalnya dibantu Shuichi, yang telah menetapkan pilihannya untuk menjadi pengawalnya, tanpa berpikir itu benar atau salah. Di bandara, saat pesawat terbang lepas landas dan telah terbang. Pesawat terbang yang ditumpangi Shoichiro dan Shuichi dibajak oleh kawanan perompak yang menamakan dirinya ‘Black Moman’. Ternyata kelompok itu mengincar pedang Han-Tse, sontak perlawanan tak berimbang terjadi di dala pesawat itu, kecelakaan pun tak terelakan lagi. Shoichiro pun roboh dalam perkelahian itu, Shuichi yang masih bertahan bagaikan diselimuti rasa marah, memberikan perlawanan yang keras. /beberapa saat kemudian layer menjadi hitam, gelap pekat tak terlihat apa-apa, sunyi-senyap. Listrik pesawat padam. Pesawat jatuh.
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi ledakan di sebuah pantai di pesisir timur, Pesawat itu meledak.Bagaimana keadaan Shuichi? Apa ia selamat dari kecelakaan itu atau tidak? Keberadaannya pun tidak dketahui. Bahkan dari catatan-catatan kepolisian yang ada tidak ditemukan penumpang bernama Shuichi, jadi apakah ia sudah tewas? Bahkan benda suci, pedang Han-Tse kini jatuh ke tangan kepolisian Jepang. Begitu mendengar hal ini naik pitamlah mafia Thai dan di dalam hati Jinx sang ketua berusaha menemukan Shuichi baik dalam keadaan hidup atau mati, tetapi dimanakah Shuichi berada? Apakah ia masih hidup atau sudah mati?
Sebenarnya Shuichi masih hidup dan kini ia telah berganti nama menjadi Akira Fukusawa, ia kini hidup terpisah dari keluarganya dan memulai hidup baru sebagai pengantar koran pagi, tampaknya ia telah memikirkan ke depan untuk sesuatu yang terburuk. Namun dimana-mana jika berurusan dengan mafia bukanlah sesuatu yang mudah dan pasti berbahaya. Baik seperti kucing dan tikus kejar-kejaran, akhirnya pun si tikus bisa ditangkap. Hal seperti inilah yang tidak pernah dipikirkan Shuichi sebelumnya, ia tidak mungkin melarikan diri dengan mudah dari mafia, terlebih karena ia gagal melakukan tugas.
Beberapa hari kemudian, di apartemen Lin, tepatnya dikamar 666. Shuichi dengan hati kebingungan, ia terduduk termenung, diam meniti resah. Ia menutupi wajahya. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi HP yang terletak di lantai di sebelah kirinya sontak, ia mengangkat dan menjawab panggilannya
“Aaaaaaaaaaaaarrrrgggggghhhhh.!!”.
Ia bertanya-tanya bahkan beribu-ribu kali berpikir, ia pun merasa ingin bersembunyi namun perasaan di dalam hatinya seakan-akan menekan dan membuat hatinya meledak, membuatnya tidak dapat bersembunyi. Keadaan ini semakin kacau dan menggila. Beberapa saat kemudian terlihat mobil hitam terparkir di depan apartemen Lin. Dari mobil itu keluarlah pria berjubah serba hitam dari atas sampai ke bawah. Pria itu masuk ke dalam apartemen lin dan mendatangi kamar 666. Seakan sudah tahu akan ada yang datang menghalanginya, Shuichi menghalangi pintu kamarnya dengan lemari kayu. Namun hal itu tidak dapat bertahan lama, pria berjubah hitam itu menerobos masuk dengan menggengam sebilah pedang samurai panjang di tangan kirinya. Seketika perkelahian berdarah tidak dapat terlelakan lagi.
Beberapa jam kemudian, datanglah sekelompok mobil polisi dan berhenti di apartemen Lin. Dari mobil polisi itu keluarlah sekelompok polisi dan dektetif, mereka masuk apartemen dan mendatangi kamar tempat Shuichi berada. Polisi-polisi dan dektetif Agurosawa yang saat membuka pintu kamar Shuichi, mendapati Shuichi sudah dalam keadaan tidak bernyawa, dengan kamar yang berserak-serakan, buku terkampar dimana-mana dan lemari buku yang tergeletak di lantai kamar, hancur dan dipenuhi goresan-goresan dari semacam benda tajam. Setelah beberapa jam, melakukan olah TKP, dektektif Agurosawa mengetahui kemungkinan pembunuhan ini berhubungan dengan mafia Yakuza.
“ Sepertinya pembunuhan ini berhubungan dengan Yakuza, aku mengetahuinya karena ia merupakan anak buah Yakuza, aku mengetahuinya dari tato yang ada di sekujur badannya itu, itu adalah lambang rahasia Yakuza” kata dektetif Agurosawa dengan nada meyakinkan.
Setelah itu polisi-polisi dan dektektif Agurosawa mulai menyelidiki dan mengungkap jelas kasus pembunuhan ini.
4. BREATH OF FIRE
part 01
Pada zaman dahulu, sekitar tahun 345Z.A, di daratan Lothrien hiduplah suku naga, suku naga yang menguasai daerah Ideel. Namun, tepatnya tahun 280Z.A, suku naga menghilang secara misterius dari daerah Ideel.
*
Tidak seperti biasanya Tarnum bangun pagi. Hari ini, ia dan pamannya Greenhocks akan memancing Goldfish di danau Elsmoon. Maka pagi-pagi benar, ia menyiapkan alat untuk memancing.
“Apa kau sudah siap, ayo kita berangkat!”kata Greenhocks kepada Tarnum.
“Ya”
Maka berangkatlah mereka berdua meninggalkan desa Greenhills menuju danau Elsmoon. Danau Elsmoon tepat berada di sebelah utara desa Greenhills. Perjalanan ke danau, kira-kira memakan waktu 45 menit. Setelah sesampainya di sana, memancinglah mereka, terlarut dalam kesenangan, lupa dirilah mereka. Waktu kini telah menunjukkan hari sore. Mereka berdua pun memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan pulang, mereka melihat asap hitam menjulang tinggi. Dalam dirinya, Greenhocks tahu bahwa asap itu mungkin berasal dari desanya.
“Ayo! Kita pulang cepat !”
Tarnum pun mengikuti kata-katanya. Maka berlarilah mereka menuju desa.
Dari perjalanan yang santai dan penuh canda tawa kini berubah dan diselimuti rasa takut. Sesampainya di desa, benarlah apa yang diduga oleh Greenhocks, ya, memang sejak dulu ia sering dipanggil sebagai ahlinya tukang duga oleh warga Greenhills dan dugaannya itu tidak pernah meleset, kali ini juga, Desa Greenhills diserang oleh kaum Moguls, tak pelak hal ini membuat panik Greenhocks dan Tarnum. Di tengah-tengah porak-poranda itu mereka berdua berusaha mencari keluarga dan teman terdekatnya. Nasib sial memang tidak bisa dipungkiri, Greenhocks tertikam pedang dari belakang punggungnya menusuk sampai ke bagian dadanya. Ia pun terjatuh seketika dan Tarnum memangkunya.
“Dengarkanlah, nak, engkau sebenarnya bukan anakku, dahulu engkau kutemukan terbalut selimut di daerah gurun Ideel. Pergilah kini ke Belthazaar Empire. Mungkin kau akan mengetahui jawabannya di sana. Nak, maafkanlah ayah”kata Greenhocks.
Di tengah kesedihan dan kebingungannya. Sorot matanya menjadi tajam. Ia memutuskan untuk pergi ke Belthazaar Empire melalui hutan Ank’s forest. Ia pun dikejar-kejar oleh suku Moguls sampai ke dalam hutan Ank’s forest. Hutan Ank’s forest berada di sebelah barat desa Greenhills. Banyak orang yang mengatakan hutan ini angker dan seram dan ada beberapa sumber juga yang mengatakan bahwa di hutan ini ada penjaganya, seorang ranger. Di dalam hutan Ank’s forest, Tarnum berlari sekencang-kencangnya agar tidak tertangkap suku Moguls. Terlebih ada kaum Moguls yang melemparinya dengan batu keras dan besar. Beberapa saat kemudian, Tarnum pun tersusul dan saat seorang kaum Moguls itu ingin memukulnya dari belakang, panah pajang menusuk pelipis seorang kaum Moguls itu. Tarnum terselamatkan. Ia pun menengok kearah datangnya arah panah tersebut. Setelah ia menengok, berdiri tegaplah seorang pria berjubah hitam dan berkerudung hijau panjang sampai ke punggung, pria itu memengang busur panah di kedua tangannya, tempat busur panah di punggungnya. Jelaslah bahwa pria ini seorang ranger. Pria ini mendekati Tarnum.
“Siapa kau? Kau tidak diperkenankan di sini!”kata pria ini.
“A…aku Tarnum, aku ingin pergi ke Belthazaar Empire”
Saat itulah kaum Moguls sudah mengelilingi mereka berdua. Seketika itu, pria berjubah hitam ini melawan sekumpulan Moguls yang menghadangnya. Karena jumlah kaum Moguls yang terlalu banyak, maka mundurlah pria berjubah hitam ini dan membawa pergi serta Tarnum.
“Apa yang terjadi mengapa kaum Moguls mengejarmu?”kata pria ini.
“Mereka menyerang desaku, Greenhills”
Setelah lama berlari, sampailah mereka di sebelah barat hutan Ank’s forest.
“Jalan teruslah, telusuri jalan setapak ini, maka kau akan sampai di Belthazaar Empire, aku tidak bisa mengantarmu sampai ke sana, karena beberapa alasan”tukas pria berjubah hitam ini.
“Baik, tetapi sebelumnya siapa namamu?”
“Orang-orang memanggilku Elvran Blackmore, sebelumnya juga aku ingin memberi sesuatu untukmu”
Bersiulah Evran Blackmore, siulannya sangat kencang bagai memekak telinga. Setelah itu dri jauh terdengar suara binatang liar dan suara itu makin lama makin mendekat. Tak lama kemudian muncullah seorang serigala hitam di hadapan Tarnum.
“Ini adalah pengawal setiaku, Miku the Blackwolf, kini ia akan mengawal dan melindungimu”kata Elvran Blackmore.
Evran pun membisikkan sesuatu ke telinga Miku dengan bahasa yang tidak dimengerti, sepertinya bahasa kaum serigala. Konon hanya kaum ranger saja yang dapat mengerti bahasa kaum serigala, karena biasanya kaum ranger hidup di alam dan dapat berinteraksi dengan alam yang ada di sekitarnya. Maka dengan dituntun oleh Miku the Blackwolf pergilah Tarnum. Saat Tarnum sudah berjalan cukup jauh, berteriaklah Evran Blackmore kepadanya.
“Sampai jumpa anak naga, en-zer-giel!”
Tarnum pun menoleh kearah Evran Blakmore, Evran membalasnya dengan senyuman. Tanpa dimengerti sepenuhnya maka Tarnum pun memutuskan melanjutkan perjalananya. Hampir setengah hari lamanya Tarnum berjalan menyelusuri jalan setapak, ketika itu pula Miku berlari ke depan berteriak-teriak. Saat Tarnum mendekatinya, di ujung tebing, terlihat jelaslah di daratan bawah sana menjulang benteng besar megah, itulah Belthazaar Empire, kota raja kaum manusia. Belthazaar Empire sebenarnya sudah menjadi kota raja manusia sejak tahun 1456 Z.A, tepatnya saat Third War. Belthazaar Empire dikelilingi kota-kota kecil, seperti kota Andorras di sebelah utara, kota Beltzegrim di sebelah selatan, kota Aurkhum di sebelah timur dan kota Tebet di sebelah baratnya. Sejenak Tarnum terhenti dan tersentuh oleh keindahan pusat kota kerajaan manusia. Dari langit luas terlihat burung putih besar dan besayap menjulur panjang terbang indah, burung itu mendekati Belthazaar Empire dan masuk ke benteng melalui jendela besar. Lalu burung itu pun berubah menjadi manusia dengan memakai jubah berbulu putih dengan topi putih yang dilengkapi kain putih yang menutupi setengah dari wajahnya, pria itu membawa tongka dan berjalan menuju Hall of the King. Di sana, ia mendatangi sang raja, Raja Almuric II dan penasihatnya, yang sekaligus adalah seorang mage,Theodorus.
“Yang Mulia, Desa Greenhills telah diserang, kota Auxxeriud dan sekitarnya pun telah dikuasai oleh kaum Moguls”.
“Apa katamu, Sion ?”kata Raja Almuric II.
“Yang Mulia-ku yang Agung, tampaknya kaum Undead ada di balik semua ini dan sepertinya pula pergerakkan mereka cepat di luar perhitungan kita”kata Theodorus.
“Kaum Undead, huh, tampaknya kita perlu mengadakan rapat Dewan Agung, persiapkan sekarang!”teriak Raja Almuric II.
Maka pergilah mereka bertiga Sion, Raja Almuric II dan Theodorus menuju ruang rapat Dewan Agung. Namun di tengah jalan menuju ruang rapat, seorang prajurit mendatangi mereka bertiga dengan membawa seorang pemuda dan seekor serigala hitam.
“Yang Mulia, anak muda ini memaksa masuk dan ingin bertemu dengan anda, katanya ini urusan yang sangat penting”kata seorang prajurit ini sambil menunjuk anak muda itu.
“Siapa kau anak muda ? Berani sekali kau masuk ke sini? Usir dia”.
“Tunggu, Yang Mulia, hai anak muda dapat kulihat dari matamu, anak naga, itulah dirimu. Siapakah dirimu?”kata Theodorus.
“Tarnum”
Maka dibawalah Tarnum serta ke ruang rapat Dewan Agung. Di dalam ruang rapat, Raja Almuric II berteriak lantang dan menjelaskan situasi yang sedang terjadi kepada sekumpulan ksatria dan panglima perang yang diundang rapat.
“Kaum Undead telah bergerak, mereka sudah menghancurkan dan menduduki beberapa kota dan desa. Tampaknya yang menjadi incaran utama mereka, Heart of Winter, Gemstone, kaum Undead akan memulai rencana mereka dengan gem itu mereka akan membangkitkan Lord of the Undead. Kini siapakah diantara kalian yang ingin pergi ke North Ulfreeds ?”kata King Almuric II.
Para ksatria dan panglima yang ada di situ pun terdiam dan berpikir, bahkan ada yang terlihat berdiskusi satu sama lainnya.
“Saya Yuzkhree anak Alhimsee, bersedia Yang Mulia”
“Saya Solon anak Godefroy IV, bersedia Yang Mulia”
“Saya Mephala the Shadow ranger, bersedia Yang Mulia”
Raja Amuric II pun senang dan menoleh ke Theodorus. Lalu Theodorus pun berkata.
“Kuperkenalkan kepada kalian ini adalah Tarnum, sang naga yang hilang dan kini telah kembali lagi, bawalah ia dalam perjalanan bersama kalian”
Setelah beberapa jam mengemasi barang-barang bawaan, Yuzkhree, Solon, Mephala berpamitan dengan keluarga dan kerabat dekat mereka. Lalu mereka pun berpamitan dengan Raja Almuric II. Setelah berpamitan maka berangkatlah mereka bertiga ke North Ulfreeds, kota keramat yang terdapat di sebelah ujung utara bumi. Tidak lupa Tarnum dan Miku the Blackwolf yang ikut serta mereka bertiga.
Setelah mengetahui identitas dirinya sebagai seorang naga, seperti apa yang telah dikatakan oleh Theodorus dan Evran Blackmore, namun, dalam dirinya, Tarnum masih bingung kenapa ia harus ikut perjalanan ke Nort Ulfreeds? Apa itu Heart of Winter, Gemstone ? Dan bila ia kaum naga, dimanakah sanak saudaranya? Ia pun berjalan dan melakukan perjalanan dengan penuh kebingungan. Dan hal-hal seperti itulah yang menghantuinya setiap malam dalam perjalanannya. Sebenarnya kenapa ia diikutsertakan dalam perjalanan ini, karena kaum naga telah dimusnahkan oleh kaum Undead.
Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melalui berbagai rintangan dari danau beracun Spawning Lake sampai Mountain of Iisu, akhirnya mereka sampai di North Ulfreeds. Tepat di gerbang hijau kota Ulfreeds, mereka semua berdiri. Dan setelah gerbang terbuka, terlihatlah pemandangan mengerikan, mayat dwarf terbaring dimana-mana dan bangunan rusak dan hancur dimana-mana. Yuzkhree, Solon, Mephala dan Tarnum begitu terkejut melihat pemandangan ini. Seketika itu, Miku the Blackwolf berlari kencang menuju Ulfreeds Hall. Mereka bertiga pun mengikuti Miku.
Setibanya di dalam, terkaparlah seorang dwarf di bawah patung Mysta, salah satu dewa bangsa dwarf, dewa kemakmuran. Tepat di depang kaki dewa Mystas atau diantara patung Mystas dan seorang dwarf yang terkapar terdapat meja suci tempat penyimpanan Heart of Winter, Gemstone. Solon, Yuzkhree dan Mephala pun mendekati seorang dwarf yang tekapar itu. Terkejutlah mereka ketika memeriksa meja suci tempat penyimpananan Heart of Winter, Gemstone. Heart of Winter, Gemstone tidak diketemukan. Seketika itu Miku berteriak-teriak sambil melihat ke atas. Maka Solon, Yuzkhree, Mephala dan Tarnum pun melihat ke atas. Terkejutlah mereka, di atas mereka berdiri seorang iblis bermuka seram bertanduk dua, bersayap lebar dan panjang.
Iblis itu melayang-layang di langit-langit.
“Ha….ha…ha. Gemstone sudah ada di tanganku. Alangkah menyedihkannya kau manusia. Ha….ha….ha. Bila ku bisa melihatmu mati, walaupun kau bisa membawa anak naga. Kau masih tak’kan bisa menaklukkan kami, Undead. Kalian lemah!”teriak Bazhgul sang iblis.
Sesudah itu menghilang Bazhgul sang iblis dari hadapan mereka.
“Sialan, sekarang apa yang harus kita lakukan, Gemstone sudah jatuh ke tangan iblis?”teriak Solon dengan nada putus asa.
Tiba-tiba Sion muncul dari belakang mereka berempat dan berkata…
“Ini baru awal dari semuanya dan semuanya ini baru akan dimulai. It’s all about to begins and everything can change in a time, This is the beginning of your journey”kata Sion.
Lalu seperti apa yang telah dikatakan Sion, maka pergilah mereka berempat menuju utara, menyebrangi laut Amor, mereka pergi ke daratan Amoria. Amoria adalah wilayah kegelapan dan kekuasaan tempat para Undead meraja. Sion tidak ikut dalam perjalanan tersebut, ia memutuskan untuk kembali ke kerajaan dan meminta bala bantuan.
“Baiklah! Ayo kita pergi!”tukas Solon.
Dalam perjalanan menuju pelabuhan Moria, mereka berempat bertemu Ogre. Whirem Onklshield nama Ogre ia begitu kesakitan. Rasa sakit menusuk kepalanya, perih rasanya.
“Ouuu…..urrrgh! I’n veine, I’wein diusees!”
Begitulah katanya. Tampaknya memang Ogre itu tidak mau diganggu. Solo, Yuzkhree, Mephala dan Tarnum pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Moria. Setibanya di pelabuhan Moria, terkejutlah mereka berempat melihat pelabuhan Moria ternyata sudah dikuasai suku Orc.
“Sepertinya, kita tidak dapat melewati pelabuhan ini dengan mudah”kata Mephala dengan nada kesal.
Lalu mendekatlah satu dari sekumpulan suku Orc itu, tampaknya ia adalah ketua kumpulan Orc itu.
“Wahai manusia, namaku Reist, ada apa gerangan yang membawamu kemari?”
“Salam, namaku Solon anak Godefroy IV, putra Raja Assyrium. Kami datang ke sini untuk menyeberang ke daerah Amoria”
“Jadi kau akan mengalahkannya?, kami pun tidak takut”
“Ya, jadi bisakah kami meminjam perahumu”
“Kau nampak kuat dan berwibawa, kami tampak gelisah dan takut. Di daerah Moria terdapat Shaman goblin. Kami membutuhkannya, dia telah menyerahkan Bloodstone ke tangan Bazhgul, si iblis jahat dan kami tidak menyukainya”
Terkejutlah Solon, Yuzkhree dan Mephala dan tidak untuk Tarnum. Bloodstone telah jatuh ke tangan Undead. Solon pun memutuskan untuk menggantikan dan menolong suku Orc untuk menemukkan Shaman goblin. Dengan begitu mereka berempat bisa pergi menyebrang ke Amoria.
“Baiklah! Kalau itu mau kalian, kami pun percaya, Reist akan patuh”kata Reist.
Setelah itu, pergilah mereka berempat menyebrangi laut Amor menuju Amoria. Konon menurut kepercayaan orang-orang di Lothrien, dikatakan bahwa jauh di dasar di bawah laut Amor, tinggallah Sea Serpent. Kadang Sea Serpent muncul ke permukaan laut dan menimbulkan kekacauan dan badai ombak yang besar. Apa mau dikata, kini adalah waktunya Sea Serpent muncul ke permukaan laut untuk mengamuk. Maka naaslah nasib Solon, Yuzkhree, Mephala, Miku dan Tarnum. Kapal mereka hancur dan terombang ambing di tengah-tengah laut. Bagaimana kini dengan nasib mereka?
Beberapa waktu kemudian di tepi pantai Lintera di daratan Amoria, terbaringlah Tarnum tak berdaya. Kemudian mendekatlah manusia serigala hitam kepadanya. Manusia serigala hitam itu membawanya dari tepi pantai dan menaruhnya tepat di samping api unggun.
“Tuan! Bangunlah, Tuan!”
Setelah berkali-kali manusia serigala itu berkata pada Tarnum yang pingsan, maka akhirnya terbangunlah Tarnum. Ketika terbangun terkejutlah ia, sesosok makhluk menyerupai serigala dan berbulu hitam, berbadan besar menyerupai manusia ada di hadapannya.
“Jagan takut, Tuan! Ini aku Miku the Blackwolf”
Terheranlah Tarnum melihat wujud Miku yang berubah drastis, namun melihat wujud serigala hitam itu yang mirip dengan wajah Miku, maka percayalah dia bahwa dia adalah Miku.
“Kau Miku ? Kenapa kau bisa berubah wujud”
Miku pun menjelaskan maksudnya, mengapa ia bisa berubah wujud menjadi seperti ini. Sebenarnya semua ini berawal dari beberapa tahun yang lalu, tepatnya 10 tahun yang lalu. Dahulu kala, saat itu Miku adalah seorang manusia, ia ksatria gagah negeri Bazstrien, negeri tetangga, Lothrien. Saat itu tahun 185 Z.A, ia ditugaskan Raja Darius V, raja negeri Baztrien untuk memimpin pasukannya melawan Undead di negeri Utara, namun saat pertempuran berakhir, dengan kekalahan yang dideritannya, Miku berdiri tegak dan berjalan sempoyongan. Naas, memang ketika ia berjalan , berdirilah di hadapan seorang penyihir hitam, Nashgul namanya. Ia menyihir dan mengubah wujud Miku menjadi seekor serigala, serigala hitam! Dan untuk dapat kembali ke wujud semula Miku harus membunuh Nashgul. Wujud Miku pun bisa berubah menjadi 2 : serigala hitam biasa dan manusia serigala hitam(werewolf). Oleh karena itulah, ia ikut perjalanan ini bersama Tarnum. Ia tahu waktu pembalasan akan tiba suatu hari nanti dan kini waktu yang telah ditunggu-tunggu telah menantinya di depan mata.
Tarnum pun terlarut dalam alunan cerita Miku. Setelah Miku selesai bercerita, hari telah menunjukkan gelap, malam. Esok hari telah tiba, burung-burung camar berkicau di sekitar pantai dan angin mendesir keras, membuat daun-daun kelapa menari-nari indah. Hal ini membuat Tarnum dan Miku terbangun, sesaat setelah mereka terbangun mereka terlupa akan sesuatu, Solon, Yuzkhree dan Mephala tidak ada, mereka bertiga menghilang! Sambil memandangi lautan luas dari sisi pantai, Tarnum menitiskan air mata. Perpisahan ini terlalu cepat dan tiba-tiba.
“Tuan, mari kita melanjutkan perjalanan!”
Masuklah Tarnum dan Miku ke sebuah hutan lebat di sebelah sisi timur pantai Lintera. Tanpa mengetahui arah dan tujuan mereka berjalan tanpa arah di dalam hutan. Berkali-kali Tarnum dan Miku berjalan, mereka selalu melewati jalan yang selalu sama. Merasa heran dan takut, mereka menghentikan perjalanan.
“Pasti ada sesuatu yang tidak beres, seseorang memainkan kita dengan mantranya”kata Miku.
“Hei! Lihat di sebelah kanan ada seekor burung hantu!”kata Tarnum.
Benar kata Tarnum, seekor burung hantu terus mengawasi pergerakan mereka. Ketika mereka mendekatinya, berubahlah burung hantu itu menjadi seorang manusia, ia adalah seorang lone druid. Namanya adalah Ian Skylord. Ian Skylord mengetahui Tarnum adalah seorang suku naga. Ia pun menceritakan asal-usulnya dan menceritakannya panjang lebar. Setelah mengetahui asal-usulnya dan mengapa suku naga bisa mengilang, Tarnum tersadar dan ia semakin membenci kaum Undead. Ian pun mengetahui situasi yang sedang terjadi sekarang, Heart of Winter, Gemstone dan Bloodstone telah jatuh ke tangan iblis. Dengan kedua batu suci itu, iblis akan memulai ritual kebangkitannya sang Lord of the Undead, raja mulia mereka.
Mengetahui situasi yang darurat seperti ini, maka hal seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Akan terjadi pertempuran yang tidak terelakkan lagi. Fourth War akan terjadi. Dan sekali lagi dunia akan terpecah belah.
Waktu sangat berharga, Ian, Tarnum dan Miku pergi ke utara hutan menuju Tower of Abbyss, di menara inilah tinggal Bazhgul, sang penyihir yang menyimpan Heart of Winter, Gemstone dan Bloodstone. Perjalanan ke sana memakan waktu berhari-hari. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, tibalah mereka di Tower of Abbyss. Di depan gerbang, berubahlah Ian menjadi seekor beruang besar.
“Ayo! Inilah saatnya pertempuran dimulai!”
Maka masuklah mereka bertiga ke Tower of Abbyss, dan membantai semua goblin-goblin yang ada di tiap-tiap lantai menara. Hingga akhirnya mereka berhadapan dengan Bazhgul, sang penyihir. Saat perlawanan itu, naas, Miku the Blackwolf tewas seketika dengan mantra Ignis factus, mantra bola api besar, yang dikeluarkan oleh Bazhgul. Namun Bazhgul pun tewas, di tangan Tarnum yang marah besar, karena tewasnya Miku.Tarnum menusukkan sebilah pedang besar tepat di dadanya dan menusuk sampai tepat ke jantungnya. Gemstone dan Bloodstone pun dapat diambil kembali, tetapi ketika melihat ke arah luar jendela menara, Tarnum dan Ian melihat segerombolan bahkan beratus-ratus ribu pasukan Undead.
“Perang besar yang dinantikan telah tiba dan tibalah waktunya”kata Ian Skylord.
Beberapa hari setelah itu, perang besar berkecamuk di daratan Amoria antara kaum manusia dan kaum Undead, perang inilah yang akhirnya merupakan akhir kejayaan kaum manusia. Perang ini kemudian di masa mendatang disebut dengan Forgotten Fourth War oleh kaum manusia. Perang dunia keempat yang terlupakan.
part 02

Pada masa ini dunia begitu kelam dan dipenuhi oleh aura-aura kegelapan, para daimon berterbangan di langit-langit bumi, menutupi bumi dengan keiblisannya. Di daratan banyak bangkai-bangkai serta tulang belulang binatang dan manusia, di sebelahnya pun banyak tetancap bendera kerajaan. Bendera kerajaan para manusia. Burung-burung gagak pun hinggap di bangkai-bangkai tersebut, mereka menggerogoti sisa-sisa daging yang tersisa. Banyak terdengar naungan-naungan kesengsaraan dimana-mana. Dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan menjulang bertebaran bangkai-bangkai binatang dan mayat manusia. Matahari kini tidak bersinar lagi. Sang cakrawala telah ikut ditelan langit. Ini adalah penderitaan! Ini adalah zaman dimana kegelapan merajai dunia. Ini adalah akhir dari kejayaan manusia yang menyedihkan. Ini adalah zaman setelah perang the Fourth War.
Di daratan Lothrien kini dikuasai oleh kegelapan. Para daimon menguasai langit-langit dan mengawasi keadaan di daratan. Di daratan banyak terdapat bangkai-bangkai binatang dan mayat-mayat manusia, sisa peperangan, juga banyak terdapat bangsa mogul. Mereka telah menguasai daratan. Bangsa manusia telah musnah!. Tidak, tidak sepenuhnya musnah, di ujung sana, di sebelah barat daratan Lothrien, daratan Balthrien tepatnya di daerah Green woods, daerah hutan-hutan belantara hijau, yang terkenal dengan aura-aura mistisnya. Tinggallah seorang perempuan bernama Alfisa the Mind-reader, pembaca pikiran. Perempuan ini tinggal sendiri di sebuah gubuk kecil dan hanya di temani oleh seekor burung falcon kesayangannya, Gilbert.
Alfisa juga termasuk korban kekejaman the Fourth War, saat perang itu terjadi ia adalah jenderal perang pasukan platon 13 dari Balthrien. Bersama panglimanya, Ruffus the Changler, seseorang yang dapat berubah bentuk/wujud sesuai keinginannya, mereka menerima panggilan perang dari kerajaan utama di Lothrien, Empire of Belthazar. Dalam peperangan, di medan perang South of Ameria ( sebelah selatan Ameria ), Alfisa menderita kekalahan telak, dengan jumlah pasukan yang tidak sebanding, 5000 berbanding 15.000. Lalu, ia pun memutuskan untuk mundur ke daerah terlarang, Ruined Floom, namun nasib sial membekap Alfisa dan pasukannya, mereka bertemu segerombolan Lizardmen. Tanpa percakapan sedikit pun, terjadilah pertempuran. Di sinilah terjadilah keajaiban, sebuah dimension door, pintu ruang waktu-merupakan salah satu bentuk sihir. Dimension door itu menarik Ruffus dan sisa-sisa pasukan. Alfia pun terkejut, terheran-heran dengan apa yang telah terjadi, hingga akhirnya pun ia melarikan diri dari gerombolan Lizardmen. Dengan hati dipenuhi kebingungan akan apa yang telah terjadi ditambah ketakutan yang menyelimuti hatinya, ia pun memutuskan untuk pulang ke daerah asalanya, Green woods di Balthrien, daerah yang sedikit aman untuk bersembunyi dan tidak begitu terjamah dan dikuasai oleh kegelapan. Ia pun berjanji pada dirinya, suatu hari nanti ia akan mencari Ruffus dan sisa-sisa pasukannya.
Suatu hari pada malam hari, di suatu tempat di daerah Green woods di Balthrien, , berkumpullah sekelompok orc.
“Kudengaaaaar….diiii….sini massii….iih tingaa..aalll seeeoorr.rrang manusiaaa…” kata salah satu orc.
“Memang benar, Smark dengar juga begitu, di suatu tempat di daerah ini, hi..hi…hi.. Smark ini sangat sangat senang, karena Smark pikir sudah tidak ada manusia yang tersisa” kata orc bernama Smark.
“Wok..wok…wok..wok. Kalau begizu kiza buru dan cari manusia izu” kata salah satu orc yang lain.
Maka sekelompok orc yang beriang-riang gembira itu, berpencar ke empat arah, utara, barat, timur dan selatan. Sementara itu, Alfisa yang sedang tidur terlelap dengan diselimuti kain tebal yang sobek-sobek terbangun, ia mendengar suara. Suara burung kesayangannya, Gilbert. Alfisa pun segera keluar dari gubuk dan ketika membuka pintu, Gilbert langsung terbang mendekatinya dan menetap di pundaknya.
“Kwaak…kwakkk….kkwaaakkk” kata Gilbert kepada Alfisa.
Alfisa memang tidak bisa berbicara bahasa burung falcon, tetapi ia bisa membaca pikirannya. Ia pun langsung mengetahui apa yang terjadi. Ia telah dikepung oleh kawanan orc! Segera setelah itu, pergillah Alfisa meninggalkan gubuknya tanpa sempat membenahi dan membawa barang, kecuali pedangnya Falcion, the Hinghest sword of King Falcon; pedang pusaka raja burung falcon, Skylord. Alfisa pun pergi ke arah barat hutan.
Beberapa saat kemudian, sekawanan orc sampai di gubuk Alfisa, Mereka pun kaget, di gubuk itu sudah tidak ada manusia.
“Wok….wok…wok. Hi..hi…hi. dia pikir bisa membodohi kita para orc. Bodoh sungguh bodoh mereka. Kaum manusia memang bodoh, bau mereka, walaupun mencoba untuk menghilangkannya, tetap saja tercium” kata salah satu orc.
Lalu, orc itu langsung menunjuk ke arah barat hutan, maka pergilah sekawanan orc itu ke arah barat hutan. Sementara itu, Alfisa berlari kencang, larinya pun sangat kencang karena tubuhnya yang ringan dan otot kakinya yang kuat, namun di tengah jalan ia terhenti, sekawanan orc telah menghadangnya, tepat di depannya.
“Sssssshhhhhhhh…..apaaaaa yyyang akkaan kau laakkukann?” kata salah satu orc.
Alfisa mencoba berjalan ke belakang, melarikan diri, tetapi tepat di belakangnya telah muncul sekawanan orc dengan jumlah yang lebih banyak. Alfisa tejepit.
“Wok…wok…wok. Sekarang apa yang akan kau lakukan ?” kata salah satu orc yang ada di belakang Alfisa.
“Memang benar, kau Snurk, ia manusia, Smark ini akan memakannya. Smark sudah tidak tahan lagi” kata Smark.
“Wok..wok….wok.Tenanglah Smark, lihatlah jiwanya. Jiwa yang dipenuhi ketakutan, merupakan kehidupan untuk kita. Wok…wok…wok” kata Snurk kepada Smark.
Untuk beberapa waktu lamanya, sekawanan orc yang menghadang Alfisa hanya terdiam dan berputar-putar mengelilinginya. Namun, ekspresi, wajah mereka memperlihatkan kegirangan dan kesenangan., Alfisa mengangkat pedangnya ke ke atas, pedang itu bersinar terang, pedang pusaka raja burung falcon. Dengan penuh keberanian, ia menyerang sekawanan orc itu sendirian.
“Alkhamalek in Reus et manarsme inn! ( Dewa Reus lindunglah kami !)” kata Alfisa mengucapkannya dengan teriak lantang.
Sementara itu, di lain tempat nun, jauh dari sini, jauh sekali, tepatnya di sebelah selatan daratan Lothrien, daratan Gladrien. Daratan Gladrien adalah negeri suci kaum elf, kaum peri. Daratan ini dipenuhi hutan-hutan indah dan bangunan-bangunan suci tinggi seperti menara, banyak juga ditemukan kincir angin. Maka daratan Gladrien sering juga disebut negeri kincir angin. Kedamaian meliputi negeri ini Negeri ini sangat tertutup dan tidak terbuka bagi siapapun, sulit sekali bagi kaum luar untuk memasuki negeri ini, kecuali melalui Monolith; semacam pintu yang menyambung ke dunia luar, fungsinya sama dengan Dimenson Door, tetapi ini bukan termasuk jenis sihir. Hingga, the Fouth War terjadi negeri ini tidak luput dari kehancuran. Namun, bangsa elf tidak musnah. Kaum yang tersisa melarikan diri ke daerah di utara dan membuat pemukiman baru di sana, di Nort Aleska.
Di negeri ini tepatnya di daerah Hainshenn, tinggallah seorang pemuda. Pemuda itu adalah Ruffus the Changler. Sudah beberapa tahun ia tinggal di sini bersama pasukannya, semenjak ia dan pasukannya tertarik oleh Dimensoon Door di Ruined Floom, yang membuatnya terdampar di negeri ini, Gladrien. Hari demi hari, mereka lalui dengan penuh kelelahan, karena daerah Hainshenn dan sekitarnya, meliputi seluruh negeri Gladrien telah dikuasai dan menjadi sarang bagi para kaum daimon satu per satu pasukan Ruffus jatuh. Mereka semua kini tinggal 20 orang termasuk di dalamnya Ruffus. Kini, mereka tinggal di sebuah bangunan kincir angina di daerah utara Hainshenn.
Ruffus sebenarnya sangat merindukan Alfisa. Ia sangat mencintainya, tetapi ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Saat ini, betapa Ruffus sangat merindukannya, ia duduk termenung di ruang makan. Sudah lama ia duduk termenung, lebih dari sejam, ia terduduk seperti itu memikirkan Alfisa dan mungkin hanya Alfisa yang dapat menenagkan hatinya, tetapi kemudian ia berpikir bahwa sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal itu, ia harus memikirkan pasukannya. Ruffus pun berdiri dan keluar menuju tempat dimana para pasukannya berada.
“Ruffus, apa yang harus kita lakukan, tentu kita tidak dapat berdiam diri terus di sini. Para daimon akan menangkap kita!” kata wakil panglima, Alderic von Nurnbeg II.
“Aku tahu ini memang keadaan sulit bagi kita. Kini seluruh jalan telah tertutup untuk ke dunia luar, kecuali Monolith” kata Ruffus.
“Monolith, itu dia! Bukankah kita dapat ke dunia luar melalui itu?” kata Alderic von Nurnbeg II.
“Iya, hanya para daimon telah menguasainya dan jumlahnya lebih banyak daripada jumlah kita” kata Ruffus.
Tiba-tiba datang seorang prajurit, prajurit itu datang menghampiri mereka berdua. Prajurit itu nampak tergesa-gesa. Ruffus dan Alderic pun mendekatinya.
“Ada apa Nimean?” kata Ruffus kepada prajurit yang bernama Nimean.
“Lapor! Panglima, Arkhon si penjaga menghilang!” kata Nimean si prajurit.
Terkejutlah Ruffus dan Alderic begitu mendengar perkataan yang disampaikan oleh Nimean si prajurit.Bertanya-tanyalah Ruffus dalam hatinya tentang hal ini, begitu pula dengan Alderic.
“Kenapa Arkhon bisa hilang?” kata Ruffus kepada Nimean.
“Entahlah, kulihat dia terakhir kalinya 4 jam yang lalu, saat itu seingatku ia pergi ke arah barat, katanya hanya mau ‘buang air besar’ dan ia tidak kembali-kembali sejak saat itu” kata Nimean.
“Kalau begitu, mari kita cari dia kea rah barat, ayo!”
Maka, pergilah Ruffus dan Alderic bersama 18 pasukannya menuju barat. Setelah berjalan jauh, mereka belum menemukan tanda-tanda keberadaan Arkhon, yang mereka temukan hanyalah padang gurun gersang, tandus dan udaranya pun sangat panas sekali dan di sana tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Sebenarnya, padang gurun yang mereka lalui, bukanlah padang gurun biasa. Padang gurun itu sebenarnya, tempat tinggal kaum ogre, makhluk menyerupai manusia, berbadan besar dan tinggi. Biasanya kaum ogre ini tinggal menetap di suatu tempat di padang gurun ini.
Setelah berjalan lumayan jauh. Persediaan makanan kian menipis, terutama air karena mereka melewati padang gurun dan tentunya udara panas menyiksa mereka semua bahkan sampai ada yang pingsan dan terpaksa diggotong oleh yang lainnya. Setelah beberapa lama kemudian, di hadapan mereka semua berdiri kokoh sebuah menara, Menara Ilbis, menara terkutuk dan tempat tinggalnya pemimpin kaum ogre. Menara Ilbis ini tinggi sekali, tingginya hampir 38 meter dan menara Ilbis ini dikelilingi oleh pemukiman-pemukiman ogre. Ruffus berpikir di dalam hatinya, mungkin Arkhon tetrtangkap dan disekap oleh kawanan-kawanan ogre itu. Terlebih, yang dilihatnya, para ogre sedang berpesta-pesta.
“Tampaknya, Arkhon telah tertangkap oleh kawanan-kawanan ogre itu” kata Ruffus.
“Sepertinya begitu” kata Alderic von Nurnbeg II.
Maka, seperti yang biasa Ruffus lakukan untuk mematai-matai musuh, ia berubah bentuk menjadi ogre. Setelah itu, ia pun brerpesan kepada Alderic untuk bersiap dan berjaga-jaga bersama pasukannya apabila ternyata memang benar, Arkhon disekap oleh ogre-ogre itu. Pergillah Ruffus menuruni bukit dan berjalan kea rah menara Ildis.
Tak lama setelah itu, sampailah Ruffus di tempat kawanan ogre itu. Ia pun dapat melihat dengan jelas, kawanan ogre yang sedang berpesta pora mengelilingi api unggun. Pesta meriah itu diadakan dekat tangga pintu masuk ke menara Ildis. Tepat di depan pintu masuk menara Idlis itu, berdiri seorang ogre, ogre itu berbadan paling besar diantara ogre yang lainnya. Ogre itu berpakaian perang dan memakai mahkota emas berhiaskan berlian Eye of Uruk. Berlian mistis yang niscaya dapat memberikan berbagai jenis kekuatan api bagi pemiliknya. Ogre ini adalah ogre king.
“Uork on gireast !( Hei kawan apa kabar!)” kata salah satu ogre, yang datang menghampiri Ruffus.
“Aork on girest ! ( Aku baik-baik saja ! )” kata Ruffus dengan nada yang sedikit lagi.
“Ueark on parzist in spierses likee garounic unra. ( Kita akan mendakan pesta untuk menghukum sang tahanan manusia, seorang prajurit. )” kata ogre itu.
‘Seorang prajurit’ seperti kata-kata yang disampaikan ogre itu kepada Ruffus, tahu benarlah Ruffus dan dugaannya memang tidak meleset bahkan untuk hal yangatu ini Ruffus jarang meleset. Arkhon telah disekap oleh kawanan-kawanan ogre ini. Penyelamatan ini harus segera dilakukan sebelum Arkhon dijadikan santapan oleh kawanan-kawanan ogre ini. Akhirnya pintu menara Ildis terbuka dan begitu terbuka sepenuhnya muncul Arkhon dengan digiring dan dikawal oleh beberapa ogre. Tampaknya pesta ini benar-benar akan dimulai. Kaum ogre berteriak-teriak senang. Ruffus harus segera mengambil tindakan, tetapi……..
Diatas sana, di atas bukit, Alderic dan pasukan-pasukan juga melihat Arkhon yang keluar dari pintu masuk menara Ildis. Alderic telah gelap mata, tanpa menunggu instruksi dan tanda-tanda dari Ruffus, ia langsung mempersiapkan pasukannya untuk menyerbu. Segeralah Ruffus dan pasukan-pasukan menuruni bukit.
“Uork on hillces! ( Ada kaum manusia yang menyerbu, ada kaum manusia yang menyerbu ! )” kata salah satu ogre yang datang menghampiri kawanan ogre yang sedang berpesta.
Begitu mendengar hal itu, Ruffus terlihat begitu kesal dan kecewa. Kenapa hal ini bisa terjadi ? Maka pertempuran ini sudah tidak bisa terelakkan lagi, seperti sapu menyapu debu-debu. Pertempuran ini cepat sekali selesai. Ogre king menghancurkan dan memusnahkan semuanya dengan sihir api yang diciptakannya, Ignis factus, sihir bola api yang jatuh dari langit-langit bumi, tetapi hanya mengenai kubu Ruffus beserta pasukannya. Ruffus dan pasukannya kalah dalam pertempuran itu, tetapi apakah Ruffus tewas? Tidak, ia masih bisa berdiri, walaupun dengan susah payah. Alderic telah tewas.
“Gruo Uork on inesset Pentises! ( Beraninya kau manusia, betapa lemah dan menyedihkan! )” kata ogre king.
Sesaat setelah berbicara itu, ogre king mulai mengucapkan mantra sihir apinya lagi. Kali ini dari tangannya ia mengeluarkan sihir Ignis charm. Sihir bola api raksasa. Ruffus hanya bisa berpasrah dan tidak punya harapan lagi, Alderic, Arkhon yang ingin diselamatkan juga pasukan-pasukannya telah tewas, tidak bernyawa! Ia pun melihat ke atas, ke langit-langit luas. Betapa kagetnya ia, ketika melihat ke atas, ia melihat seekor naga besar terbang di langit-langit dan berdiam tepat di atas Ruffus. Terkejutlah kawanan-kawanan ogre yang ada di bawahnya, tetapi tidak untuk ogre king. Kemudian ogre king pun mengarahkan sihir Ignis charm itu kea rah sang naga, tetapi sang naga itu memakan bola apinya. Terkejutlah ia, keadaan panik dan resah mulai menyelimuti kaum ogre. Belum sempat untuk melarikan diri, sang naga mengeluarkan api besar, besar sekali dari mulutnya dan menghanguskan seluruh yang ada di bawahnya, kecuali Ruffus.
Kemudian naga itu mendarat. Di darat, naga itu berubah wujud menjadi seorang manusia. Terkejutlah Ruffus melihat hal ini. Manusia itu membelakangi Ruffus, lalu menoleh ke belakang melihat Ruffus dengan sorot mata yang tajam. Pupil mata manusia itu berwarna merah. Begitu menyadari hal itu, tahulah Ruffus bahwa manusia ini adalah keturunan asli dari Dragon clan ( klan naga ). Yang niscaya, menurut banyak orang klan naga dapat berubah bentuk dari naga ke manusia dan sebaliknya.
“siapakah namamu?” kata Ruffus.
“Hmmm…namaku adalah namaku. Kau dapat menyebutku Tarnum the Red Dragon” kata Tarnum.
Maka, terlibatlah perbincangan di antara mereka berdua. Tarnum adalah satu-satunya yang tersisa dari Dragon clan. Ia juga merupakan korban dari the Fourth War. Kini, ia ingin pergi menyebrang ke daratan di sebelah utara Gladrien, daratan Lothrien.
“Bila kau tidak keberatan, bolehkah aku menumpang dan mengantarkan aku ke Baltrien” kata Ruffus.
“Tidak masalah”
Tarnum pun berubah wujud kembali menjadi seekor naga. Lalu, Ruffus menaiki pundaknya. Pergilah mereka berdua, terbang ke langit luas menuju ke Baltrien. Dalam perjalanan, hati Ruffus berdetak-detak, ia sudah tidak sabar untuk bertemu Alfisa. Ia pun berjanji dalam hatinya, bila nanti ia bertemu kembali dengan Alfisa, ia akan mengungkapkan isi hatinya, tidak akan pernah meninggalkannya lagi dan selalu menjaganya.
Hari telah berganti hari, sejak hari keberangkatan Tarnum dan Ruffus ke Balthrien sudah memakan 5 hari dan akhirnya mereka pun sampai di daratan Balthrien, tetapi ketika melewati Green woods, terkejutlah Ruffus dan Tarnum, dari langit mereka melihat sesosok wanita tergeletak di tengah hutan. Ruffus sangat kaget, ia berharap dalam hatinya bahwa itu bukanlah Alfisa. Saat telah mendarat di bawah, Ruffus terkejut dan hanya bisa terpana, terbata, betapa tidak ternyata sesosok wanita yang ia lihat dari atas, memang betul Alfisa. Ruffus pun berlari menghampirinya.
“Tidak! Kenapa hal ini bisa terjadi padaku. Bangunlah Alfisa! Bangun!” kata Ruffus.
“Tampaknya ia dibunuh oleh sekawanan orc dan sudah lama sekali terjadi, sekitar 3 minggu yang lalu. Sungguh naas nasibnya, tetapi tidak ada yang bisa kita perbuat lagi. Baiklah aku harus pergi ke Lothrien” kata Tarnum.
Tarnum pun pergi meninggalkan Ruffus seorang diri. Ruffus hanya bisa menangis sedu sedan atas kepergian Alfisa.